Interview dengan Linear Venture Capital: Kondisi eCommerce Indonesia Sekarang Mirip dengan China 5 Tahun lalu, Bagaimana Perkembangannya Sekarang?

Tidak ada Google, tidak ada Facebook, pernahkah Anda membayangkan bagaimana kondisi eCommerce di China? eCommerce di China tergolong cukup menarik dan unik. Anda yang penasaran dengan eCommerce di China tentunya pernah mencoba untuk membuka website di China, namun yang kita temukan adalah huruf mandarin (Han Zi) yang tidak kita pahami.

Kabar baiknya, baru-baru ini Startupbisnis.com mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang tentang eCommerce di China bersama Harry Wang dan Michael Zhang dari Linear Venture Capital. Harry adalah technical person yang sangat berpengalaman, lulus dari beberapa universitas di China dan US dengan GPA 3,79 dan 4.00, memiliki paten di bidang social economy. Orang ini memiliki resume luar biasa, bisa Anda lihat di Linkedinnya. Sedangkan Michael memiliki background Management Consulting dan retail, sebelumnya adalah senior director Tmall dan JD.com.

Linear Venture memiliki portfolio di Indonesia, yaitu Yogrt.co yang merupakan location based social network yang menggunakan games sebagai ice breakers.

Perbincangan ini membuka wawasan kami tentang eCommerce di China, dan tentunya akan kami share kepada seluruh pembaca setia Startupbisnis.com. Apa saja poin penting dari perbincangannya?

Perusahaan e-Commerce no.1 di China

Tentunya adalah Group Alibaba yang mempunyai bisnis C2C (Taobao) dan B2B2C (Tmall).

No 2 adalah jd.com. Alibaba mempunyai sales yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jd.com, namun keduanya punya perbedaan. Jika ingin mencari barang-barang elektronik seperti kamera, recorder, dan sebagainya, biasanya mereka akan datang ke jd.com. Apabila mereka mencari pakaian, kosmetik, dan sebagainya, mereka mencarinya di Tmall karena mempunyai lebih banyak pilihan.

Di kategori Grocery & Household products, ada Yihaodian (yhd.com) sebagai pemimpin pasar. Di kategori flash sale ada VipShop dan kosmetik ada Jyoumei.

Tren di eCommerce China

Social e-Commerce sedang berkembang disana, modelnya adalah O2O (Online to Offline). Khususnya O2O service seperti nail spa, laundry, dsb.

Salah satu contoh O2O adalah Bear Butler yang baru-baru ini mendapatkan investment sebesar US$960,000, menyediakan service untuk booking dan membayar jasa laundry. Staff akan datang ke rumah customer untuk mengambil pakaian yang akan di laundry, kemudian mencucinya dan mengantarnya kembali ke rumah customer.

Apakah benar jika di China Anda mempunyai Sebuah Ide Baru, Besoknya akan Ada 200 kloning yang muncul?

Di China, Anda akan sangat susah meng-klaim bahwa itu adalah ide original dari Anda, bahkan di US. Di Silicon Valley mereka tidak memproteksi ide, tapi memproteksi prototipenya. Namun, di China, tidak ada apapun yang di proteksi.

Namun, mereka tidak akan meng-copy ide Anda hanya karna idenya bagus, tapi Anda harus punya prototipe yang menarik dan mempunyai sebuah data yang mendukung idenya. Seperti pada 4-5 tahun lalu, ada 2000-3000 bisnis yang meng-copy Groupon dan hanya 3-4 yang bertahan.

Inovasi e-Commerce di China

Di China sedang tren untuk menjual “Lifestyle”. Mereka menggunakan Content based e-Commerce, tidak hanya menjual produk tapi fokusnya menjual ‘lifestyle’. Seperti sebuah website mengedukasi bagaimana hidup dengan gaya ala Eropa, wine seperti apa yang harus dibeli untuk mencerminkan lifestyle Eropa, dan sebagainya. Konten tersebut dibuat sedemikian rupa untuk membuat customer terpikat dan akhirnya membeli produknya.

Misalnya menjual paket travel ke Jakarta, mereka menunjukkan apa saja yang dapat dilakukan disana, betapa menariknya datang ke Jakarta, lalu akhirnya menawarkan dengan biaya sekian Yuan, Anda dapat menikmati itu semua. Konsepnya seperti Majalah, namun bedanya Majalah tidak memberitahu Anda bagaimana membelinya.

Marketing Channel Penting di China?

Jika Anda ingin membuka toko online di China, Anda dapat membukanya di Tmall. Biasanya mereka tidak membuat website sendiri di China, tapi membuka store menggunakan Tmall. Jika di Indonesia Google menjadi channel yang penting bagi toko online, di China berbeda. Tidak ada Google disana, hanya ada Baidu. Namun, orang-orang di China tidak pernah mencari sesuatu yang ingin dibeli lewat Search Engine (Baidu), mereka mencarinya langsung di Tmall. Bahkan, Tmall memblokir Baidu sehingga data di Tmall tidak dapat masuk ke search engine Baidu. Biasanya search engine lebih digunakan untuk mencari informasi, seperti review dan sebagainya.

Menariknya ada sebuah search engine khusus untuk produk Alibaba yang bernama eTao, dan disana kita dapat membandingkan harga antara Alibaba, Tmall dan kompetitornya.

2 medan perang utama untuk eCommerce di China adalah Tmall/Taobao dan WeChat. WeChat adalah kombinasi dari Facebook dan Whatsapp. Namun, perlu diketahui bahwa Facebook juga di banned di China.

Apakah E-Mail Marketing Populer di China?

5 tahun lalu banyak pelaku e-Commerce yang menggunakannya, namun sekarang sudah sangat jarang digunakan, impactnya sangat kecil dan sangat tidak efektif. Hal ini diakibatkan oleh tergantikannya e-mail oleh WeChat di China. E-mail hanya digunakan dalam pekerjaan, selebihnya mereka banyak menggunakan QQ dan WeChat.

WeChat dikatakan sebagai “Life Management Tools” bagi orang China, mereka dapat melakukan banyak hal dengan WeChat. Fungsi utamanya adalah sebagai messenger dan social media, namun mereka juga bisa memesan taksi, booking tiket kereta dan bioskop, membeli produk finansial, membeli lotre, membeli produk, memberikan angpao, membayar kartu kredit, dan sebagainya. Fungsinya sangat banyak hingga dapat disebut sebagai ‘life management tool’. Experience melalui mobile lebih baik daripada desktop dan penggunaan mobile cukup besar di China, diperkirakan sekitar 50% sales di Taobao dan Tmall berasal dari mobile.

eCommerce di Indonesia Sekarang Mirip Seperti di China 5 Tahun lalu

Kesamaan itu tidak hanya ditunjukkan oleh populernya e-mail marketing di China 5 tahun lalu. Tapi kondisi metode pembayarannya juga mirip. 5 tahun lalu tidak banyak yang menggunakan kartu kredit di China dan Cash on Delivery sangatlah populer disana. Alipay juga masih kecil dan baru saja mendapatkan traction saat itu. Menurut Harry, kondisinya sangat mirip dengan Indonesia sekarang dan 5 tahun kemudian kondisi berubah 180 derajat. Jika China membutuhkan 5 tahun untuk berubah menjadi seperti itu, Indonesia seharusnya membutuhkan waktu yang lebih singkat menurutnya.

Inovasi Logistik di China

Di China ada sebuah inovasi logistik yaitu Cainiao yang merupakan platform untuk logistik. Bisnis model ini termasuk baru dan unik, salah satu pendirinya adalah Alibaba Group. Cainiao berdiri tahun 2013 dan merupakan jaringan logistik yang terdiri dari berbagai perusahaan logistik tergabung di dalamnya.

Cainiao disebut sebagai “Smart Logistics System” yang menghubungkan jaringan perusahaan logistik dengan Internet sehingga informasi tentang paket dan pengiriman dapat dengan mudah diakses dan dikelola.

Mengapa Linear Venture Mencari Startup di Luar China? Apakah Market China Kurang Besar?

Kompetisi di China sangat ketat dan valuasinya menjadi tidak masuk akal. Namun, 80% dari uang mereka masih ada di China dan untuk China. Mereka bukan takut dengan kompetisi, namun melihat adanya peluang dan mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi di sini.

eCommerce Skala Kecil Hingga Menengah tidak Membuat Website

Di China, eCommerce skala kecil hingga menengah biasanya tidak membuat website. Mereka tidak membutuhkan website dan hanya membuka store melalui Tmall. Biasanya hanya bisnis besar yang membuat websitenya sendiri. Beda dengan di US yang ada istilah “Every small business needs website”. Dengan kondisi ini, website builder sejenis wix, wordpress, dan sebagainya tidak laku di China.

Hal terbesar yang mempengaruhi ini adalah karena orang di China tidak datang ke search engine mereka untuk mencari produk, namun langsung datang ke Tmall atau Taobao. Sehingga website kecil kesulitan untuk mendapatkan traffic di China dan malah terlihat mencurigakan bagi mereka. Tmall setidaknya dapat menjamin keseriusan suatu bisnis, karena untuk berjualan di Tmall mereka harus menaruh uang deposit. Uang deposit ini dapat digunakan sebagai jaminan tanggung jawab jika ada komplain dari pelanggan.

Lalu, muncullah pertanyaan, jika semua eCommerce kecil berjualan di Tmall, bagaimana cara mereka bersaing? Menariknya, untuk produk lokal China, mereka tidak terlalu berpikir untuk melakukan branding, atau usaha untuk membuat suatu brand image. Maka, perang harga yang sangat ketat adalah suatu hal yang biasa disana. Orang yang peduli terhadap brand biasanya akan membeli produk luar negeri. Hanya baru-baru ini mulai tren untuk menjual “lifestyle” dengan melakukan branding melalui konten.

Portfolio dari Linear Venture Capital

  • Shequ001, sebuah perusahaan pengiriman produk grocery yang bekerja sama dengan berbagai supermarket lokal dan dapat mengirimkan ke rumah kurang dari satu jam. Sekarang telah berada di lebih dari 30 kota di China
  • Dianping, sebuah review platform seperti Yelp yang menyediakan informasi merchant, rating pelanggan, dan featured promotions. Pada Desember 2014, Dianping telah memiliki 190 juta pengguna aktif, 60 juta review, dan 1.2 juta profile merchant di 2300 kota di China dan tempat-tempat populer di luar negeri.
  • Dianrong, merupakan marketplace untuk jasa kredit yang memberikan solusi yang lebih efisien untuk pemberi pinjaman dan keuntungan yang lebih besar untuk investor.
  • Kujiale, sebuah platform untuk desain rumah seperti Houzz yang mempunyai database residential design dan menghubungkan pemilik rumah dengan para desainer. Kujiale juga memiliki cloud-based 3D interior design tools yang membantu pemilik rumah untuk menggambar desain mereka sendiri.
  • Baixing, classified advertisement terbesar ketiga di China. Local merchant dan pelanggan dapat mempublikasikan informasi dan mengiklankan penawaran mereka.
  • Freebuf, sebuah crowdsource platform yang menghubungkan white-hat hackers untuk mendapatkan hadiah dari memecahkan bugs.
  • Yogrt, sebuah location based dating app yang menggunakan casual game sebagai pencair suasana di Indonesia.
  • Gangpiaoquan, startup Hong Kong yang berfokus membangun komunitas untuk membantu traveller untuk mengunjungi Hong Kong
  • Tesign, online design marketplace yang menghubungkan pelanggan dengan para desainer.
  • Fraudmetrix, sebuah perusahaan yang berfokus untuk menyediakan financial security dan data insight pada perusahaan dan institusi finansial.
  • Rokid, sebuah perusahaan yang berfokus untuk membuat consumer home robotics.

 

Digital Marketing di China

Ini adalah pertanyaan saya kepada mereka, beserta jawabannya

Di Indonesia, kita punya banyak pilihan channel digital marketing :

  • Facebook edge rank : how to get high organic engagement in FB
  • Facebook ads : how to get low CPC, CPM, laser focus interest targeting
  • Adwords : how to get low CPC, high quality score
  • SEO ; How to get good rank on Google, SEO onpage, SEO offpage- building backlink
  • Email marketing : how to collect email database
  • Mobile marketing : how to get high download using review site/app store optimization
  • Instagram, Twitter : how to get big followers by cross promote with other big account

Di China tidak ada Facebook dan Google, juga Twitter, pilihannya nampak terbatas. Untuk ecommerce, apa saja pilihannya ?

Sebenarnya tidak terlalu terbatas, tetapi banyak jenis promosi yang bisa dilakukan di dalam Taobao/Tmall dan Wechat, yang merupakan war field paling utama untuk ecommerce.

Di China ada beberapa channel subtitusi yang available dari yang disebutkan di atas tentang kondisi digital marketing Indonesia.

Facebook

Facebook di banned di China. Wechat basically adalah kombinasi antara Facebook & Whatsapp di perangkat mobile untuk orang China.
Traffic Weibo telah turun dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang masih menggunakannya untuk marketing channel tetapi konversinya rendah.
Adwords dan SEO
Subtitusinya adalah Baidu dan beberapa video websites seperti Youku, pptv etc. Baidu memang besar tetapi nampak kurang kuat di mobile era dan pelan-pelan terlihat mulai mengendur.
Email marketing
Sangat tidak efektif di China walaupun website seperti jd.comctrip.com tetap melakukannya.
Mobile marketing
Di China ada 91wireless, 360 app store, etc. App stores sangat besar dan mereka semua dimiliki perusahaan besar seperti baidu, tencent, 360.
Instagram, Twitter
Orang orang di China melakukannya di Weibo, tetapi sekarang jauh tidak efektif dibandingkan 3 tahun lalu.
Instagram dan sejenisnya tidak pernah populer di China.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *