Data Konsumen dan Potensi Perkembangan Ecommerce Indonesia 2016

Pertumbuhan pesat pangsa e-commerce di Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Namun sayangnya, seiring dengan tren e-commerce yang terus naik serta pasar yang masih terbuka lebar, hingga saat ini masih belum ada sumber yang menyediakan data komprehensif mengenai ecommerce. Maka dari itu MARS, perusahaan riset di Indonesia, mengadakan riset independen mengenai e-commerce di Indonesia.

Secara keseluruhan riset ini ditujukan untuk melihat prefensi dan perilaku konsumen terhadap bisnis e-commerce di Indonesia. Adapun tujuan dan informasi yang ingin diperoleh dari riset ini adalah sebagai berikut:

  • Mengetahui awareness konsumen terhadap pelaku bisnis e-commerce di Indonesia
  • Mengukur penetrasi konsumen yang bertransaksi melalui e-commerce
  • Mengetahui perilaku dalam berbelanja online
  • Mengukur consumer readiness (berapa % konsumen yang siap berbelanja online)
  • Mengetahui produk-produk yang diblei melalui e-commerce
  • Mengukur berapa sales e-commerce di Indonesia

Untuk mendapatkan data komprehensif, riset ini menggunakan metodologi survey dengan menyasar berbagai kota besar yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Denpasar dan Palembang. Sample yang dipilih sebanyak 1866 untuk user e-commerce dan 866 non-user e-commerce yang memiliki akses internet, sehingga berjumlah 2732 sample. Masing-masing area memiliki jumlah sample yang berbeda, di mana Jabodetabek memiliki sample terbanyak dengan 397 user e-commerce dan 214 non user e-commerce. Sedangkan kota lainnya hanya memiliki separuh dari sample Jabodetabek.

Sample tersebut didapatkan dari teknik sampling Multistage Random Sampling dan Purposive Sampling / Booster dengan kriteria responden Pria/Wanita 13-55 tahun berdomisili di kota survey, memiliki SES ABC yang mengakses internet dalam 3 bulan terakhir.

demografi-responden-ecommerce-indonesia-2016

Melalui metode pengumpulan data Face to face interview serta kuesioner terstruktur, didapatkan informasi antara lain:

1. Penetrasi Internet & Pembelanja Online

Total populasi Indonesia berjumlah 255,4 juta jiwa yang terbagi menjadi masyarakat perkotaan sebanyak 44.1% dan masyarakat pedesaan 55.9%. Namun Internet baru digunakan oleh 35.4% (90.5 juta jiwa) dari populasi dengan pembagian masyarakat perkotaan sebanyak 51.5% dan masyarakat pedesaan 22.7%. Akan tetapi tidak semua pengguna internet melakukan belanja online, karena hanya 29% orang (26.3 juta jiwa dari total yang koneksi internet) yang memanfaatkan internet untuk berbelanja online. Dengan kata lain, dari seluruh populasi masyarakat Indonesia, hanya 39% masyarakat perkotaan dan 11.1% masyarakat pedesaan yang melakukan belanja online.

2. Lokasi & Device Koneksi Internet

Dari hasil riset ditemukan bahwa device atau media yang paling banyak digunakan untuk mengakses internet adalah Handphone dengan persentase 89.8%, diikuti dengan laptop sebesar 5.5%, PC sebesar 3.1% dan Tablet 1.6%. Biasanya mereka mengakses internet di tempat yang memberikan kenyamanan dalam melakukan browsing, hal ini terbukti dari hasil riset yang menunjukkan bahwa rumah menjadi pilihan utama dengan 72.1%, diikuti dengan tempat yang memiliki sambungan internet, kantor, warnet, dan lainnya.

3. Kepemilikan Akun Media Sosial

Bisa dikatakan hampir semua orang yang mengakses internet memiliki setidaknya satu akun di media sosial. Namun media sosial mana yang paling banyak digunakan? Ternyata Facebook sangat mendominasi masyarakat Indonesia dengan persentase 93.5%, Instagram 43.3%, Google+ 44.2%, Twitter 39.2%, Path 19.2%, dan LinkedIn 5.6%.

4. Aplikasi Messaging yang Digunakan

Mungkin Anda berpikir BBM (Blackberry Messenger) sudah ditinggalkan oleh pelaku bisnis online untuk melakukan transaksi, namun nyatanya BBM justru menempati posisi pertama sebesar 90.7%, baru kemudian Whatsapp dengan 63.4%, LINE 53.7%, WeChat 8.2%, KakaoTalk 3.7% dan Facebook Messenger 0.2%.

5. Potensi E-commerce

Berdasarkan karakteristik dan perilaku konsumen tersebut, maka dapat dikatakan sebenarnya potensi perkembangan e-commerce di Indonesia bisa menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Rata-rata hasil survey konsumen berdasarkan kota, usia, dan SES menunjukkan bahwa konsumen sudah siap dalam memasuki era belanja online. Masyarakat Medan memiliki kesiapan paling tinggi dengan persentase sebesar 92.5%, diikuti dengan Bandung, Palembang, dan Semarang. Sedangkan jika dilihat berdasarkan kelompok usia adalah konsumen yang berusia 22-29 tahun.

Ternyata kegiatan berbelanja online telah memengaruhi benak konsumen, karena 46.4% konsumen memiliki persepsi bahwa harga di online lebih murah. Inilah mengapa banyak konsumen yang memilih untuk berbelanja online, selain lebih menghemat waktu mereka juga dapat membandingkan harga. Pembelanja online sangat sensitive terhadap harga, karena jika konsumen tahu bahwa harga di situs belanja online lebih tinggi, mereka akan beralih untuk berbelanja offline.

Tentu saja konsumen tidak akan meninggalkan toko offline, karena ada beberapa faktor kenyamanan dari belanja offline yang tidak bisa ditemukan ketika berbelanja online. Inilah kekurangan dan kelebihan belanja online:

potensi-ecommerce-di-indonesia

6. Media Sosial dan Forum Online

Saat ini sudah banyak platform untuk melakukan jual-beli, seperti marketplace, media sosial dan forum. Media sosial yang paling diingat sebagai tempat jual-beli online adalah Facebook (52.7%), BBM (19.7%) dan Instagram (12.4%). Sedangkan untuk  forum online adalah FJB Kaskus (33.2%), Forjumjualbeli.com (31.1%) dan DetikForum (7%).

7. Sumber Informasi untuk Situs Belanja Online

Para pembelanja online mendapatkan informasi untuk situs belanja online dari berbagai media seperti iklan televise, teman/saudara, internet, iklan media cetak dan media sosial.

8. Barang yang Paling Sering Dibeli Secara Online

Data ini akan sangat berguna bagi para penjual online yang masih belum yakin dengan produknya atau ingin menambah bisnis baru.

daftar-barang-yang-paling-banyak-dibeli-secara-online kategori-produk-ecommerce

Kategori produk pakaian, aksesoris dan FMCG memiliki nilai belanja online 1 tahun sebesar Rp56,1 T; kategori elektronik dan furniture Rp5.9 T; dan kategori travel sebesar Rp19,8 T. Maka didapatkan total nilai belanja online selama 1 tahun adalah Rp81,8 T.

Konsumen memiliki alasannya sendiri mengapa mereka tidak berbelanja online, serta mengharapkan beberapa faktor agar mereka mau belanja online:

alasan-orang-tidak-berbelanja-online

Itulah data riset mengenai e-commerce Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sumber dalam mengelola ecommerce atau toko online Anda. Informasi selengkapnya dapat Anda temukan dalam slide di bawah ini.

Baca Juga

Pasar Ecommerce di Indonesia Akan Menjadi yang Terbesar di Dunia

Indonesia Ecommerce Landscape: 6 Poin Utama dari Pertarungan Online di Indonesia

1 thought on “Data Konsumen dan Potensi Perkembangan Ecommerce Indonesia 2016”

  1. Mbak arwinda pritami Apa langkah awal jika saya ingin membuka toko ONLINE? Dan produk apa yang paling laris dijual online? Apa tipsnya agar saya bisa sukses bisnis toko online?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *