Dapatkan Kembali 29% Sales yang Hilang Hanya dengan Mengirim ‘Abandoned Cart Email’

Editor’s Note : Tulisan ini dibuat oleh William Harris, VP of Marketing & Growth Dollar Hobbyz. Dollar Hobbyz adalah eCommerce yang menjual spare part RC car dan aksesorisnya.

Saya berbicara pada banyak eCommerce store yang mencari cara untuk bertumbuh 10% atau lebih dalam sebulan. Seringkali saya merasa mereka ‘gila’ karena menginginkan pertumbuhan yang tinggi. Namun, sebenarnya ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mendapatkan growth setinggi itu, atau bahkan lebih.

E-mail untuk abandoned cart (Shopping cart yang ditinggalkan tanpa melakukan checkout) adalah salah satunya. Jika Anda tidak menggunakan bagian krusial dari eCommerce yang mempengaruhi konversi ini, maka Anda harus memulainya sekarang.

Mari kita gunakan perumpamaan yang lebih mudah dicerna. Anggaplah Anda mendapatkan 100 juta rupiah per bulan dari website Anda.

Jika Anda dapat memperoleh 29% lebih dengan hanya mengaktifkan email untuk abandoned cart, Anda memperoleh pendapatan ekstra sebesar 29 juta rupiah per bulan. Pendapatan ekstra tersebut sudah dapat digunakan untuk membayar karyawan, memasukkan lebih banyak stok, menggunakan Facebook Ads, atau hal-hal lainnya yang perlu Anda lakukan.

Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana membuat abandoned cart email yang baik? Berikut 4 elemen penting yang perlu diperhatikan :

Elemen 1 : Timing

Tergantung pada platform dan sarana apa yang Anda gunakan untuk email, Anda seharusnya dapat mengirim abandoned cart email lebih dari sekali. Lakukan lah A/B testing dengan ini.

Rentang waktu yang bagus untuk Anda coba adalah 1 jam setelah shopping cart ditinggalkan, 24 jam setelah shopping cart ditinggalkan, dan 7 hari setelah shopping cart ditinggalkan.

Sebenarnya saya merekomendasikan untuk menggunakan ketiganya, kecuali jika Anda merasa itu akan mengganggu dan menimbulkan masalah bagi audiens Anda. Cobalah beberapa kombinasi waktu sekitar 3 rentang waktu tersebut. Anda seharusnya dapat menemukan titik terbaik untuk memulihkan kembali sebanyak mungkin shopping cart yang ditinggalkan.

Jika Anda khawatir pelanggan Anda akan unsubscribe, bacalah apa yang ditemukan studi kasus oleh Peak tentang hal tersebut. Dikatakan bahwa dengan menerapkan abandoned cart email ini, mereka mendapatkan kembali 12% sales yang hilang. Memang ada sejumlah orang yang unsubscribe, namun jumlahnya sangat kecil.

Elemen 2 : Subject Line

Subject line dapat menjadi hal yang ‘tricky’. Anda harus menemukan subject line yang dapat menarik pelanggan untuk take action dan membuka emailnya, namun Anda juga harus menjaganya supaya tidak terdengar seperti spam dan menimbulkan kecurigaan pelanggan ketika membacanya (pada kasus terburuk, email Anda akan di “mark as spam”)

Lagi-lagi, A/B testing akan membantu Anda di sini. Program email pada umumnya akan menyediakan fitur split test agar Anda dapat mencoba headline yang berbeda sehingga Anda dapat melihat data statistik seperti open rate dan Click-Through Rate untuk membandingkan keduanya.

Cobalah sebuah headline yang sangat deskriptif seperti, “Hanya hari ini: diskon 50%” atau sebuah headline yang kreatif seperti “95% dari pelanggan kami menanyakan hal ini!”. Anda juga dapat mencoba menggunakan huruf kapital pada setiap awal kata (Misal : Diskon Hari Ini) dibandingkan dengan tanpa huruf kapital (Misal : diskon hari ini). Saya telah melakukan A/B test menggunakan typo, jenis kelamin pengirim email (From : Brittany vs. From : Matt), dan yang lainnya yang relevan dengan industri Anda.

Pada email yang kami kirim untuk DollarHobbyz.com, kami menemukan bahwa sebuah subject line yang deskriptif dan baik, dapat memiliki open rate yang sedikit lebih rendah. Namun, secara eksponensial memiliki Click-Through Rate (CTR) yang lebih tinggi. Kami menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena orang-orang tahu persis apa yang mereka buka, jadi mereka memang bermaksud membukanya.

Elemen 3 : Konten

Konten yang membosankan itu ya membosankan. Apakah Anda pernah menerima e-mail yang bahasanya sangat baku dan formal? Apakah itu membuat Anda sangat tertarik? Kecuali Anda adalah penggemar tata bahasa, Anda mungkin akan merasa bahwa email tersebut ditulis oleh robot.

Tulislah email seperti Anda menulis email ke teman baik Anda. Membuat email yang makin terasa leh manusia adalah elemen krusial untuk membuat penerima email merasa terhubung dengan Anda dan email Anda, yang pada akhirnya lebih ingin meng-klik dan membeli. Berlanggananlah e-mail dari Chubbies untuk mendapatkan inspirasi-inspirasi yang menarik. Informasi lebih lanjut tentang strategi konten dan email marketing dari Chubbies bisa anda baca di sini.

Lagi-lagi (saya tidak bosan mengulanginya), lakukanlah A/B test. Setiap audiens memiliki karakter berbeda, jadi cari tahu seperti apa audiens Anda. Kebanyakan program email menyediakan pengiriman email dengan isi yang berbeda-beda pada kelompok audiens yang berbeda pula dan Anda dapat melihat hasilnya melalui angka Click-Through Rate. Ini penting agar Anda dapat mempelajari email seperti apa yang membuat audiens Anda meng-klik.

Elemen 4 : CTA

Jika Call-to-Action (CTA) Anda adalah “Buy”, Anda mungkin akan kehilangan banyak penjualan. Temukanlah sesuatu yang lebih deskriptif, lebih tidak mengintimidasi dan lebih menarik. Misalnya jika Anda menjual asuransi jiwa, gunakan CTA seperti, “Selamatkan Jiwa Saya Sekarang”.

Anda akan terkejut betapa efektifnya CTA yang lebih baik. Buatlah CTA yang relevan dengan produk Anda, buatlah sesuatu yang menarik untuk di-klik. Kita semua suka berbelanja, namun kita cenderung tidak suka disuruh untuk membeli. Dorong mereka untuk merasa bahwa mereka telah membuat keputusan yang hebat, bukan membujuk mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Author: Rhein Mahatma

mimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *