Belajar Bisnis Online : 7 Alasan Kenapa Toko Online Fashion Gagal

1. Gagal untuk berinovasi dan kurang differensiasi

Kenapa konsumen seharusnya konsumen tertarik untuk membeli produk tertentu dari anda ketika mereka bisa membeli produk yang sama di manapun di internet ? Konsumen sekarang perlu untuk melihat beberapa bentuk value di produk anda dan layanan untuk closing.

Dynamics dibelakang online shopping sangatlah berbeda dari shopping di dalam batu bata dan took mortar. Konsumen bebas untuk menggunakan kekuatan dari internet untuk mencari, membandingkan dan mengconduct research antara anda dan competitor anda. Jika anda menjual produk, yakinkan anda berupaya extra untuk membedakan produk anda dari competitor anda atau menambahkan extra value pada terms of service atau produk.

Jangan pernah mengcopy atau mengimitasi sesame competitor. Fashion enthusiast akan selalu melihat anda sebagai copy cat murahan dan imitasi hanya menyanjung brand fashion lain yang anda copy. Bih jauh lagi ini menegaskan dominasi competitor anda dalam fashion local marketplace.

2. Terlibat dalam perang harga yang absurd

Ini mungkin adalah move yang paling buruk untuk dilakukan. Di catur, bad moves seperti ini disebut “blunders”. Dari pada terlibat di perang harga yang bodoh, e-tailers seharusnya menghabiskan lebih waktu untuk mencoba mendifferensiasikan produk atau layanan mereka. Biarkan competitor anda terlibat di perang harga yang mereka ingin masuki.

Be smart, dan menjauh dan focus pada product key yang lainnya yang menghasilkan sebagian besar pendapatan. E-create brand anda dan perkuat posisi anda dengan focus pada kekuatan e-stores anda dan produk andalan anda. Fokus pada area dimana kekuatan anda berada dan buat move yang cerdik dan berani yang akan membuat competitor anda off guard dan terkejut.

Katakan pada konsumen anda kenapa mereka seharusnya membayar anda lebih ketimbang competitor anda. Berikan konsumen alas an yang tepat kenapa mereka seharusnya memilih anda disbanding competitor anda dan tinggalkan perang harga ke competitor lain di saat anda membuat spot yang nyaman bagi brand anda.

3. Poor Branding dan Lousy PR

No News is bad news ! Cari perhatian dengan semua biaya ! Realitas semuanya dinilai dari penampilan, dan apa yang tidak terlihat tidak ada gunanya. Jangan biarkan brand anda atau e-store anda kehilangan arah. Pastikan e-store anda lebih besar, megah, dengan range produk yang lebih baik dan berwarna, dan lebih menarik dibanding competitor anda sehingga competitor anda dapat dilupakan.

Bujuk dan libatkan potential buyers anda dengan menciptakan “envy factor” untuk brand anda. Bermain dengan fantasy dari konsumen anda ! Cobalah kembali menciptakan fantasy dari target konsumen anda. Hidup itu keras dan semua orang mencari jalan keluar – sulap fantasy kita karena hasrat adalah gurun yang seksi yang ada di hati manusia. Konsumen akan datang berbondong-bondong ke toko anda. Ada manfaat yang besar untuk menciptakan fantasy dari konsumen anda. Konsumen tidak akan membeli dari e-store yang mereka tidak tahu itu ada.

Contoh yang bagus di sini adalah Dylan Lauren, anak perempuan dari fashion mogul, Ralph Lauren yang mengalami kesuksesan besar ketika menciptakan Dylan’s Candy Bar di tahun 2001 di saat ia sukses membawa mimpi-mimpi childhood konsumen menjadi kenyataan. Terinspirasi dengan melihat Willy Wonka dan chocolate Factory ketika ia masih berusia lima tahun, dia menciptakan mimpi-mimpi childhood setiap orang – untuk menjadi took permen yang paling enak.

Poto yang jelek dan kurangnya detail adalah alas an umum kenapa produk yang bagus gagal. Ingatlah selalu : Fashion e-store itu menjual style menggunakan gambar dan kata-kata. Bagaimana dan dapat membujuk orang-orang untuk membeli dengan gambar jelek dan deskripsi level anak TK ? Foto adalah refleksi dari brand image anda !

5. Customer service yang jelek, response time yang lambat dan kualitas produk yang rendah

“Membutuhkan waktu seumur hidup untuk membangun reputasi dan hanya 5 menit untuk menghancurkannya” quote dari Warren Buffet.  Reputasi e-store anda adalah segalanya. Yakinlah anda menjaganya dengan hidup anda ! Jangan jual produk dari kualitas inferiornya. Menjual inferior quality fashion product itu lebih buruk dari pada mejual produk yang mahal. Menjual produk sepatu heels yang mahal tetapi masa pakainya yang lama jauh lebih baik dibanding menjual produk yang rusak dalam dua kali pemakaian.

Singkatnya, lebih baik dikenal sebagai “took yang mahal” dibanding dikenal sebagai e-store yang menjual “sampah”. Esalahan umum lainnnya adalah banyak e-stores tidak meletakan resource yang cukup dibelakang tim customer service mereka.

5. Stock management & Cashflow

Fashion adalah trend yang bergerak cepat dan berubah juga dengan cepat. Gagal untuk menyelesaikan SKU tertentu atau design sebelum trend dianggap “out of fashion” adalah dilemma umum lainnya yang sebagian besar fashion e-store hadapi. Banyak fashion e-stores melakukan perjuanagn konstan antara menyeimbangkan variasi dan pergerakan stock. Identifikasikan produk yang mana yang bergerak dengan lebih baik; differensiasikan fashion product anda antara produk atau design apa yang jatuh di bawah klasik – “timeless”, seasonal dan runway.

Jadilah terdepan, lakukan research pada items apa yang lagi trending dan items mana yang tidak. Selalu kumpul data pada warna apa yang menjual terbaik, ukuran apa yang menjual lebih banyak dan yang lagi ngetrend dengan mengacu pada pergerakan stock anda. Sediakan stock best selling products selama musim dimana orang banyak membeli dan turunkan di saat musim orang jarang membeli untuk meminimalisasi overhead ketika krisis datang. Seni untuk mengetahui kapan untuk menjual banyak dan stay low adalah cara yang paling baik untuk tetap ada dipuncak.

6. Web store yang tidak menarik dan user experience yang jelek

Jika anda menjual fashion product wanita anda akan menyadari bahwa tidak hanya pria yang meruapakan mahkluk visual. Orang-orang senang shopping di e-store yang tampilannya bagus dan user-friendly di waktu yang sama. Jika anda menjual sepatu ataupun baju untuk contoh, pastikan anda memiliki panduan ukuran tepat disebelah gambar produk di product page anda. Pastikan juga anda menyatakan dan menggambarkan produk anda dengan sangat detail. Ciptakan web store yang megesankan dan anda akan melihat hasilnya.

Pastikan e-store anda mensupport semua payment option untuk memfasilitasi pembayaran target pengunjung anda dan untuk check out nya sendiri harus mudah bahkan user paling primitive pun dapat melakukannya. Singkatnya, pastikan semuanya adalah “dummy proof”. Jangan pelit memperkerjakan resource yang tepat dan mendapatkan orang yang professional melakukan artwork dan communication collateral anda. Jika anda adalah bisnis kecil atau startuop, lebih baik untuk mengoutsource technical work anda atau gunakan solusi e-commerce yang memiliki professional support sepanjang tahun.

7. Berkompetisi di Red Ocean – Marketplace yang kompetitif dan berantakan

Banyak e-commerce store mencoba untuk menjadi generalist shopper, menjual berjenis-jenis produk. Mereka mengekspos diri mereka kedalam apa yang kita sebut “red sea”. Menjadi seorang specialist merchant berarti anda bermain di produk niche yang dapat memberikan customer anda lebih percaya untuk membeli di toko anda.

Dan juga pindah ke marketplace yang tidak banyak saingannya dapat membantu meningkatkan tingkat survival dan sukses anda. Esalahan terbesar adalah banyak fashion merchant berkompetisi secara langsung dengan big boys dan tidak menemukan niche mereka. Bukankah lebih baik untuk mengkhususkan produk anda dibandingkan menjual semua produk dan tidak memiliki spesialisasi apapun.

Sumber : ecommercemil

Author: Rhein Mahatma

mimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *