Sebelum Memasang Paid Ads, Pastikan Page Conversion Website Anda Terlebih Dulu

Jika Anda mengunjungi grup ecommerce di Facebook atau LinkedIn, Anda akan sering menemukan satu pertanyaan yang sering diajukan: “Bagaimana saya menggunakan AdWords (atau platform ads lainnya) secara lebih efektif, agar mendapatkan pembeli lebih banyak?”

Pada umumnya, orang-orang ini mengajukan pertanyaan yang salah. Mereka juga mendapatkan jawaban yang salah.

Ada tiga alasan utama mengapa pay-per-click / paid ads tidak menghasilkan conversion.

  • Copy ads tidak benar-benar mewakili produk. Konsumen dibawa ke sebuah page yang tidak relevan dengan copy marketing-nya.
  • Landing page yang di desain secara buruk. Tampilannya tidak menarik mata – elemen lainnya yang mengganggu pengguna atau tampilan layout yang lemah.
  • Landing page tidak di desain agar pelanggan melakukan action. Setiap page membutuhkan elemen call to action. Unsur ini sangat penting ketika Anda menghabiskan budget untuk membawa orang-orang ke page tersebut.
  • Tambahan dari kami : Product yang buruk (atau low conversion product) juga tidak membantu Anda

Copy ads bisa dengan mudah dibuat, sedangkan desain landing page dan kontennya membutuhkan waktu lebih lama. Penting bagi Anda untuk membuat daftar tester dan mempelajari analytics untuk menentukan cara mana yang berhasil dan mana yang tidak. Tidak peduli seberapa bagus product pages dan landing pages tersebut bagi Anda, selalu ada celah untuk diperbaiki.

Inilah beberapa alasan umum mengapa orang pergi tanpa melakukan action setelah meng-klik ads yang sudah menampilkan produk secara benar.

Mengapa Shoppers pergi setelah Meng-klik sebuah Paid Ads ?

Slow loading pages

Pastikan Anda sudah melakukan tes speed website. Google punya free tool untuk speed testing, dan Pingdom akan menunjukkan script atau elemen mana yang mengakibatkan slow loading. Anda juga bisa menggunakan Gtmetrix.

hasil Pingdom untuk speed testing pages
Pingdom bisa menunjukkan penyebab waktu loading yang lama.

Nama produk yang terlalu teknis atau terlalu panjang

Nama produk (atau judul) bukanlah deskripsi. Buat seringkas mungkin, dan gunakan kata yang mudah dipahami.

produk nama yang terlalu teknis dan terlalu panjang
Elektronik dan aksesoris ponsel seringkali punya nama produk yang panjang di Amazon. Biasanya sulit dibaca dan rumit.

Format pricing yang buruk

Buatlah harganya terlihat, tapi waspada ketika menggunakan specialized font dan garis coret (yang seringkali membuat harga aslinya sulit dibaca). Dan juga, hati-hati dengan daftar harga rekomendasi produk dari pabrik yang tidak akan dipakai – shoppers harus mempelajari bahwa tipe tampilan pricing tersebut tidak selalu berarti kesepakatan.

Gambar yang buruk

Gambar bisa berdampak baik atau buruk. Jika fotonya tidak fokus, atau tidak mewakilkan produknya, maka bisa berakibat buruk. Pastikan Anda menampilkan gambar terbaik untuk setiap produknya.

Tidak adanya customer reviews

Customer review bisa membantu penjualan lebih baik daripada deskripsi produk. Kurangnya review bisa mengakibatkan shopper mencari feedback ke tempat lain. Dengan melihat bahwa tidak ada yang memberi rating produk juga bisa memberikan pesan bahwa tidak ada orang yang benar-benar belanja di tempat Anda. Hal ini membuat beberapa orang heran apakah mereka harus mengambil resiko dengan memberikan uangnya kepada Anda sementara mereka bisa menemukan produk yang sama di tempat lain.

Jangan hiraukan review yang tidak ada. Sudah lewat masanya di mana orang-orang akan merasa terhormat untuk “jadi yang pertama,” mengatakan kepada orang lain apa yang mereka pikirkan.

customer review untuk produk
Destination Lighting mengakali kurangnya customer review pada produk tertentu. Contohnya pada glass shade “Satin White Bell”, di bagian atas, review bintang lima ditampilkan dengan sangat jelas. Tapi shade “Art Glass Cylinder” tidak ada review dan si penjual, tidak menampilkan “no reviews” atau pernyataan yang serupa.

Tidak ada sense of urgency

Bookmark atau “simpan” produk tidak mengindikasikan akan adanya penjualan. Nyatanya, peluang  shopper akan kembali ke product page sangat kecil. Dengan menciptakan sense of urgency, Anda meningkatkan peluang conversion. Tapi Anda harus jujur dengan harga, value propositions, keterbatasan stok, dan social proof akan memberikan urgensi ketika seseorang melakukan pembelian. Tapi jangan sampai berlebihan dalam menyampaikannya, karena dapat berdampak sebaliknya.

Tidak menonjolkan tawaran free shipping dan garansi

Orang-orang ingin menghemat biaya pengiriman, dan mereka ingin tahu apakah bisa mengembalikan produknya jika mereka tidak suka. Pastikan untuk menampilkan informasi penting ini di landing page dan product page, daripada hanya mencantumkan di navigasi website.

Copy (kalimat yang Anda gunakan) yang tidak manusiawi

Jujur saja tentang kelebihan produk Anda (dan apa kekurangannya, jika diperlukan), dan gunakan kata-kata yang bisa dipahami semua orang.

Nyalakan Ads-nya, Secara Perlahan

Seperti biasa, testing dan analytic akan membantu Anda menentukan cara mana yang berhasil. Setelah membuat beberapa perubahan, cari cara untuk menurunkan bounce rates dan tingkatkan conversions. Bounce rate akan menandakan apakah orang tertarik, sedangkan conversions menunjukkan keberhasilan Anda dalam membuat mereka meng-klik tombol call to action.

Sekalinya Anda sudah melakukan usaha untuk mengubah visitor menjadi customer, saatnya untuk menjalankan ad campaign – sedikit demi sedikit – dan perhatikan ads-nya. Dimulai dengan low budget hingga Anda benar-benar yakin sudah mengatasi semua masalah.

Sumber: PracticalEcommerce

Baca Juga :

Mau Menaikkan Omzet Bisnis Toko Online ? Pelajari 17 Cara Meningkatkan Conversion Rate Untuk E-Commerce Anda (Infografik)

Belajar Iklan Di Google Adwords : 21 Hal Yang Mempengaruhi Click Through Rate Dan Conversion Rate Dari Iklan Anda

Sebab-sebab kenapa Iklan Facebook Anda Tidak Convert

4 thoughts on “Sebelum Memasang Paid Ads, Pastikan Page Conversion Website Anda Terlebih Dulu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *